The Letters (2014) – Menjemput Kemanusiaan Dari Sebuah Film

The Letters (2014) – Menjemput Kemanusiaan Dari Sebuah Film

INDINEWS – Manusia itu makhluk Tuhan yang berakal. Maka dari itu setiap tindakannya haruslah mencerminkan kebaikan-kebaikan yang tak bisa disamakan dengan makhluk Tuhan yang lainnya. The Letters (2014).

“Being unwanted, unloved, uncared for, forgotten by everybody,I think that is a much greater hunger, a much greater poverty than the person who has nothing to eat.”

Mother Teresa

Sebuah film yang berjudul “The Letters” mengisahkan tentang seorang biarawati yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di daerah Calcutta, India. Karirnya di India diawali dengan menjadi seorang guru. Namun, melihat keadaan di sekitarnya yang dipenuhi dengan kemiskinan dan penelantaran, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari biara dan menjalankan tugas kemanusiaannya.

Keluarnya ia dari biara tak menjadikannya berhenti sebagai biarawati. Karena seorang biarawati tidak diperbolehkan untuk berada di luar lingkungan biara, ia akhirnya mengajukan surat untuk memperoleh tugas luar. Sehingga tidak ada aturan yang ia langgar.

Mother Teresa, begitu sebutannya untuk biarawati tersebut. Selama di India, ia dihadapkan dengan dua peristiwa, yaitu kelaparan Bengal 1943 dan kekerasan Hindu-Muslim pada tahun 1946, sebelum perpecahan India. Kejadian kejadian tersebut mempelopori lahirnya “The Missionaries of Charity“. Sebuah misi kemanusiaan yang bertujuan untuk melindungi orang-orang miskin, terlantar, diacuhkan, tidak memiliki sesiapa untuk berlindung, dan tidak diinginkan oleh masyarakat.

Tak selamanya niat baik selalu berjalan baik. Mayoritas dari penduduk Calcutta adalah seorang Hindu. Kedatangannya untuk menjalankan misinya tersebut pada awalnya mengalami kecaman karena ditakutkan menyebarkan paham-paham yang ia anut. Tapi, Mother Teresa bukanlah manusia yang banyak bicara. Ia cukup menjelaskan dan membutikan, bahwa kedatangannya tidak lebih hanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya. “Kalian mungkin tidak menginginkan saya, tapi kalian membutuhkan saya,” dikutip dari ucapan Mother Teressa dalam film The Letters.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang berdatangan untuk turut membantunya menjalankan misi yang dibuat. Beberapa muridnya turut bergabung. Tak sedikit pula dari masyarakat yang ikut membantu. Sedikit demi sedikit kehidupan di sana cukup membaik. Tempat untuk penampungan orang sakit mulai disediakan, kesehatan masyarakat mulai diperhatikan, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya mulai disebarkan.

Di tahun 1952, atas dasar izin pemerintah setempat ia membuka tempat bagi jiwa-jiwa sekarat. Sebuah bangunan bekas kuil yang masih layak digunakan. Karena bangunan tersebut tadinya sebuah kuil, beberapa orang memprotes keras keputusan penggunaan kuil tersebut oleh orang-orang di luar agama Hindu. Namun, pemerintah berhasil membantunya meredakan masalah itu. Bukan tanpa alasan Mother Teresa meminta hal tersebut. Menurut Mother Teresa, bagaimanapun keadaan mereka di luar sana, mereka harus mati dalam keadaan bermartabat.

Meski Mother Teresa ini adalah seorang missionaris, ia tak pernah mengkonversi orang lain. Ia merawatnya dengan penuh ketulusan dan tetap mengharagi iman yang dianut orang-orang yang ia bantu.

Mother Teressa tak pernah menganggap hal tersebut adalah perbuatannya. Ia percaya, bahwa ia hanya tangan Tuhan yang diperintah untuk membantu sesamanya. Atas dasar hal itu, ia tak pernah menyobongkan dirinya. Karena ia sadar, tidak ada yang dimiliknya dari dunia ini. Kasih Tuhan adalah yang paling penting.

Ia tak pernah ingin kisahnya diangkat ke publik, meski perbuatannya itu dirasa mampu memberikan inspirasi kepada orang lain di berbagai belahan bumi. Namun pada tahun 1979, beliau dianugerahi sebuah penghargaan Nobel Perdamaian “untuk pekerjaan yang dilakukannya dalam perjuangan untuk mengatasi kemiskinan dan kekurangan hidup yang juga merupakan ancaman bagi perdamaian.”

Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun yang lebih membahagiakan dari itu adalah bahwa misi kemanusiaannya yang diberi nama “The Missionaries of Charity“ terus diperjuangkan sampai sekarang.

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love”

mOTHER TERESA

Film tersebut (The Letters) banyak mengandung nilai-nilai yang patut untuk dipelajari. Tidak hanya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, tapi juga toleransi yang tinggi. Untuk berbuat baik kepada orang lain, kita tak perlu tahu siapa orang itu, apa agamanya, dari mana asalnya. Berbuat baiklah kepada semua tanpa melihat latar belakang siapa yang akan kita tolong itu.

Meskipun Mother Teresa adalah seorang kristiani, ia tak pernah mempunyai niat untuk mendoktrin orang yang ditolongnya supaya mempercayai keyakinannya. Urusan iman, itu urusan masing-masing, katanya.

Tindakan yang dilakukannya murni untuk memperjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang sempat terlupakan. Meskipun ia seorang perempuan, tak lantas mengurungkan niat baiknya dan takut untuk menghadapi segala kemungkinan risiko yang akan terjadi. Justru karena ia adalah seorang perempuan, maka tindakannya itu menjadi sorotan pemerintah bahkan dunia.

Mother Teresa juga mengajarkan kita bagaimana sebaiknya kita agar hanya selalu berharap kepada Tuhan. Hal ini menyadarkan kita untuk tetap taat dan patuh pada ajaran Tuhan dan percaya bahwa Tuhan selalu ada bagi makhluk yang membutuhkannya.

Meski “The Letters” merupakan film lama, saya merekomendasikan kalian untuk menontonnya.

Oleh: Hanee H.

Related post

Leave a Reply