SKRIPSI; PEMBAWAAN

SKRIPSI; PEMBAWAAN

Jadi, apa yang pertama kali terbayangkan saat mendengar kata skripsi? Aku yakin ada perbedaan anggapan yang cukup berbenturan antara mahasiswa yang belum menggeluti skripsi dengan mahasiswa yang sedang bahkan selesai mengerjakannya. Tapi yang jelas skripsi adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku, begitulah menurut rujukan awal; Wikipedia.

Singkatnya, skripsi adalah penelitian yang membahas suatu permasalahan, sehingga didapatkan kesimpulan yang menjawab permasalahan tersebut. Begitu menurut salah satu penulis amatir skripsi; Sugih Bhakti Arifta.

Mungkin kau yang belum bersua dengan skripsi, salah satu orang menganggap bahwa skripsi itu momok menakutkan, skripsi itu berat, skripsi itu bencana, dan skripsi itu – skripsi itu lainnya. Tidak sepenuhnya salah kau merasa seperti itu, karena aku pun demikian saat memasuki masa-masa tingkat akhir. Aku sempat khawatir skripsiku bakal alot, karena sampai hari waktu mengontrak SKS skripsi pun aku masih blank bagaimana memulai mengerjakan skripsi, judul seperti apa yang enak dibawa, penelitiannya seperti apa, bahkan aku sempat tidak tahu skripsi itu ada berapa BAB dan terdiri dari judul BAB apa saja, ha ha.

**

Begini, hal mendasar yang perlu kau perhatikan saat pertama memulai skripsi adalah jangan membuat mindset-mu sendiri seperti orang bodoh. Jangan sekali-kali langsung terjun pada kalimat:

“ngerjain skripsi itu gimana aja, sih?”

“BAB 1 isinya apa, sih?”.

Serta kalimat-kalimat tanya yang seperti menuntut jawaban instan. Aku jamin saat kau mengatakan kalimat tersebut ke temanmu yang sudah lebih dulu selesai darimu, temanmu akan merasa ‘gereget’ bahkan malas menjelaskan banyak.

Akan lebih baik saat kau lebih dulu membaca buku panduan (bila ada), pelajari contoh skripsi terdahulu yang topiknya mirip, lalu baca dan perhatikan alur dari isi tiap BAB-nya. Kau tinggal mengikutinya dan mengganti dengan variabel dan teori judul skripsimu sendiri. Temanmu akan dengan senang hati membantumu saat kesulitan di beberapa bagian yang kau tidak terlalu mengerti, bukannya malah menanyakan seluruhnya. Karena sesungguhnya menyusun skripsi itu sederhana, hanya mengumpulkan data dan teori, melakukan penelitian, lalu menjelaskan hasil peneltian. Sesederhana itu. Yang membuatnya ribet adalah diri sendiri.

**

‘Ok, gambaran awal skripsi sudah lumayan jelas. Tapi katanya yang berat di skripsi itu melawan rasa malas. Bagaimana mengatasinya?’. Hal tersebut sangat benar. Melawan rasa malas berarti melawan diri sendiri, dan itu sangat berat. Lebih berat dari rindu tanpa temu, he he. Hal kecil yang perlu diperhatikan dan dibiasakan dari awal adalah self-scheduling‘Maksudnya?’. Cara yang sangat jitu melawan rasa malas adalah dengan terbiasa tidak malas, dari awal. Nah, hal tersebut harus dilakukan dan dibuat menjadi biasa sejak awal. Mau tidak mau kau harus menjadwalkan diri sendiri. Skripsi itu kuliah yang paling nyantai, tidak punya deadline, tidak dituntut dosen. Dengan begitu kau harus membuat skripsi seperti kuliah biasa, memiliki batasan waktu, jadwal, tuntutan, bahkan ‘absen’. Caranya dengan membuat jadwal mengerjakan skripsi, entah itu pagi, siang malam, kapanpun, terserah kau. Sebagai gambaran, misal kau membuat jadwal mengerjakan skripsi adalah setiap pagi dari Senin sampai Jumat. Tetapi seperti kataku, berlaku absen.

Untuk absen yang aku maksud adalah dari Senin sampai Jumat tidak boleh ada pagi yang dilewatkan tanpa mengerjakan skripsi. Paling tidak kau membaca kembali skripsi yang telah dikerjakan sudah sampai mana, lalu menambahkan yang masih kurang. Satu-dua teori, satu-dua paragraf, bahkan satu-dua kalimat tidak masalah asalkan setiap pagi kau membuka laptop dan mengerjakannya. Kalaupun ada urusan mendadak dan tidak bisa mengerjakan skripsi pada satu pagi (misal; Rabu pagi), kau harus menggantinya di hari lain, Sabtu atau Minggu. Tujuannya seperti tadi kataku, membuat skripsi seperti kuliah biasa, sehingga membuat diri sendiri menjadi disiplin.

Ada satu ‘racun’ yang akan membuatmu menunda mengerjakan skripsi, yakni kalimat

“nanti dulu deh, nunggu mood terkumpul”.

Salah besar. Mood itu bukan ditunggu, tapi diciptakan, dengan sedikit paksaan. Buang jauh-jauh kalimat itu dan tetap fokus jalankan ‘kuliah’ skripsimu. Di balik skripsimu yang sedang dikerjakan, ada orang rumah yang sedang menyiapkan baju terbaik untuk dipakainya saat kau diwisuda.

**

Satu hal pula yang perlu digaris bawahi, bahwa skripsi bukan kompetisi. Skripsi bukan tentang lebih dulu siapa, bukan tentang siapa yang skripsinya paling tebal. Setiap orang sudah dalam trek waktunya masing-masing. Kalaupun ada temanmu yang lebih dulu selesai, berarti dia memang telah menjadwalkan selesai skripsinya cepat. Dalam menyusun skripsi kau harus panas melihat yang lain selesai lebih dulu, tapi jangan sampai menjadi beban berlebihan. Karena aku yakin setiap orang yang sedang menyusun skripsi akan menemui masalahnya masing-masing, dan berbeda. Yang pemalas sudah jelas bermasalah di dirinya sendiri yang malas. Bahkan yang rajin pun akan menemui masalahnya yang sedikit banyak membuatnya sedikit down, entah pembimbing yang sulit ditemui, entah data penelitian yang sukar didapat, ataupun mendapat penguji yang galak, entahlah.

Tapi dengan berbagai permasalahan yang ada, skripsi menyimpan sisi lain yang sedikit menggelitik. Dengan skripsi kau akan belajar menunggu dosen yang sibuk, kau akan lebih mengenal orang-orang fakultasmu. Dengan skripsi juga kau akan hafal jadwal mengajar dan jadwal kosong dosen pembimbingmu, hafal plat nomor mobilnya, hafal karakter mood-nya, bahkan mungkin hafal nomor sepatunya, ‘kan?

Singkatnya, skripsimu adalah kendaraanmu menuju sebuah gelar. Bagaimana kau akan menjalankannya, apakah akan kau bawa ke jalur cepat dengan segala tantangannya, atau akan kau biarkan di jalur lambat asal sampai. Atau mungkin kau biarkan parkir tidak dikerjakan, menunggu mood terkumpul. Anggap saja skripsi hanya masalah pembawaan sendiri, selebihnya Tuhan yang mengatur seluruh skenarionya. Jangan lupa terus berdoa skripsimu lancar, karena Tuhan maha menentukan segala sesuatu, termasuk menentukan hati dosen pembimbing dan penguji. Dan, tetap bersyukur!

Oleh: Sugih Bhakti Ar.

Related post

Tips Menabung Uang Sejak Dini Untuk Masa Depan Cerah

Tips Menabung Uang Sejak Dini Untuk Masa Depan Cerah

Menjadi anak kos tentunya harus pintar pintar dalam mengurus keuangan karena uang kita yang terbatas.Jika kita tidak bijak dalam merencanakan penggunaan…
Tetap Produktif di Masa Pandemi Dengan “Time Management”

Tetap Produktif di Masa Pandemi Dengan “Time Management”

Hallo sobat rantau.Indonesia sudah dilanda wabah covid-19 selama hampir satu setengah tahun,selama itu juga kita melakukan aktivitas dari rumah.Walaupun terlihat mudah…
Lembur Nugas? Ini 6 Buah Wajib Dikonsumsi Mahasiswa

Lembur Nugas? Ini 6 Buah Wajib Dikonsumsi Mahasiswa

Meski kamu mahasiswa yang cuma rebahan sambil ngeluh soal hidup tentu kamu wajib tetep mengonsumsi buah. Apalagi di tengah terpaan tugas…

1 Comments

Leave a Reply